Cengkeraman Kapitalisme Ancora memang kuat. Namun,
bukan berarti tak bisa dilepaskan. Yang mampu adalah tentunya keputusan
bulat 25 perkumpulan sepak bola (PS) anggota dan Pengurus PSIS. Jika
sepakat, bukan tidak mungkin perusahaan asal Jakarta itu gigit jari.
Kini,
berbagai pihak menanti keberanian 25 PS dan Pengurus PSIS. Hadirnya
sejumlah tokoh bola dan pengusaha yang ingin membantu Laskar Mahesa
Jenar menambah kekuatan untuk keluar dari bayang-bayang perusahaan yang
disebut-sebut milik Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Yang
menjadi persoalan, tidak ada yang mengetahui betul perjanjian antara
kedua belah pihak kecuali Ketua Umum PSIS non-aktif Soemarmo HS.
Pasalnya dalam pertemuan dengan Ancora, tidak ada satupun pengurus yang
diajak ikut serta, bahkan untuk sekadar urun rembuk.
Memunculkan
lagi nama Fanda Soesilo juga tidak ada salahnya. Wanita cantik ini
disebut-sebut petinggi PT Ancora dan CEO PT Setia Bina Nusa. Dia tahu
betul bentuk kerja sama karena terlibat di dalamnya. Namun sosok yang
satu ini seperti menghilang di telan bumi setelah terakhir terlihat di
Semarang awal 2012 lalu.
Ketua Harian PSIS Simon Legiman bertekad
membuka misteri yang ada. Sesuai arahan Wali Kota Semarang Hendra
Prihadi, pihaknya akan terus berjalan berusaha keluar dari kabut pekat
yang selama ini menyelimuti tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri.
Apalagi
kini PSIS semakin dekat menjalin hubungan dengan tokoh bola Andi
Darussalam Tabusalla. Mantan Direktur PT Liga Indonesia (LI) itu
berkeinginan mengelola PSIS. Terlepas dari kekurangan tentang ide yang
ditawarkan, sejauh ini respon pengurus masih sangat baik.
Bisa
jadi, Andi Darussalam menjadi senjata melepaskan diri dari kapitalisme
Ancora. Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi juga siap mendukung. Kekuatan
yang akan ditambahkan pria yang akrab disapa Mas Hendi adalah
mengumpulkan pengusaha-pengusaha di Kota Lunpia yang ingin membantu
PSIS.
''Bila Ancora berani keluar dan tidak terima, kami ingin
melihat bagaimana bentuk kerja sama dengan PSIS. Dari itu dapat
diketahui bentuk perjanjian sebenarnya. Bagimana tanggung jawab dan hak
dari kedua belah pihak yang sebenarnya tidak boleh dilanggar,'' tutur
Simon Legiman.
Ini adalah momentum yang tepat untuk menyelesaikan
permasalahan yang ada. Memancing wakil Ancora keluar setelah selama ini
tak mempedulikan PSIS. Prihatin, wajar bila pengurus, tokoh bola dan
masyarakat Kota Semarang meminta lagi tim idolanya setelah selama ini
disia-siakan perusahaan Investasi tersebut.
www.suaramerdeka.com
Kamis, 31 Oktober 2013
Menanti Gerbong PSIS
Musim berganti, gerbong manajemen PSIS juga
berganti. Tak banyak yang dipertahankan dari kepengurusan manajemen
sebelumnya. Di tangan wajah-wajah baru, Laskar Mahesa Jenar pun harus
memulai dari nol lagi di setiap mengikuti kompetisi.
Selepas AS Sukawijaya memilih meninggalkan PSIS pada 2008 silam, tak pernah ada jajaran manajemen yang bertahan hingga dua musim. Itulah yang menjadi kebiasaan atau menjadi tradisi di tim kebanggaan warga Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini tidak lepas dari kebijakan penunjukkan GM yang selalu berganti di setiap musimnya. Tak ingin ambil risiko, GM terpilih juga memilih kabinetnya sendiri. Menunjuk orang-orang yang dipercayanya dan dapat berkerja sama. Dampaknya, semuanya harus dimulai dari awal.
Saat ini pengurus yang bertanggung jawab penuh atas PSIS juga belum memberikan sinyal untuk mempertahankan manajemen musim lalu. Bahkan saat ini tengah mendekati sejumlah pengusaha yang siap memberikan waktu, tenaga dan pikiran bagi PSIS.
''Kami belum menunjuk GM. Mekanisme penunjukkan juga tengah kami dalami. Pasalnya, sejak dua musim terakhir ada investor PSIS,'' tutur Ketua Harian PSIS Simon Legiman.
Tak dapat dipungkiri, posisi GM sangat vital dalam sebuah tim sepak bola. Dia bertanggung jawab penuh pada kelangsungan tim yang dipegangnya. Bila berhasil, tentunya pujian yang akan dipanen. Tetapi bila kegagalan yang dituai, caci maki, hujatan akan terus datang menghampiri.
Merugi
Segala permasalahan dalam tim sepak bola harus dapat diatasi seorang GM, termasuk pendanaan yang menjadi problem klasik. Untuk itu, seorang GM setidaknya memiliki pondasi finansial kokoh, atau mau dan mampu mencarikan pemasukan membiayai tim.
Fenomena yang terjadi, pengelolaan PSIS selalu merugi. Ini menjadi momok para orang berduit untuk ikut ambil bagian. Mereka harus berpikir dua kali kalau ingin menjadikan tim ini sebagai ladang bisnis menguntungkan. Karena itu tak banyak pengusaha Semarang yang mau terjun langsung di tim ini.
Umumnya, para pengusaha meminta timbal balik setimbal dari kepala daerah saat bersedia mengelola tim yang ber-<I>home base<P> di Stadion Jatidiri. Seperti dalam kemudahan bisnis atau perizinan. Tanpa itu, mereka enggan mengeluarkan miliaran rupiah demi investasi yang terus merugi.
Pengusaha pelumas nasional Juliari Batubara pun dapat mencium hal itu. Dia mengingatkan kepada pengurus agar tidak menuntuk GM atau Ketua Umum yang sebenarnya memiliki maksud tertentu. Seperti demi mendapatkan proyek dari pemerintah, bertopeng di balik wajah PSIS.
''Jangan cari yang seperti itu. Tidak bagus dalam industri sepak bola. Kalau lagi dapat proyek, finansial tim aman. Tetapi saat tidak mendapatkan proyek, bisa jadi mengundurkan diri di tengah jalan. Bila sudah begini, PSIS lah yang dirugikan,'' tutur Juliari yang membantu pendanaan PSIS Rp 500 juta saat memasuki babak 12 besar.
www.suaramerdeka.com
Selepas AS Sukawijaya memilih meninggalkan PSIS pada 2008 silam, tak pernah ada jajaran manajemen yang bertahan hingga dua musim. Itulah yang menjadi kebiasaan atau menjadi tradisi di tim kebanggaan warga Kota Semarang dalam beberapa tahun terakhir.
Hal ini tidak lepas dari kebijakan penunjukkan GM yang selalu berganti di setiap musimnya. Tak ingin ambil risiko, GM terpilih juga memilih kabinetnya sendiri. Menunjuk orang-orang yang dipercayanya dan dapat berkerja sama. Dampaknya, semuanya harus dimulai dari awal.
Saat ini pengurus yang bertanggung jawab penuh atas PSIS juga belum memberikan sinyal untuk mempertahankan manajemen musim lalu. Bahkan saat ini tengah mendekati sejumlah pengusaha yang siap memberikan waktu, tenaga dan pikiran bagi PSIS.
''Kami belum menunjuk GM. Mekanisme penunjukkan juga tengah kami dalami. Pasalnya, sejak dua musim terakhir ada investor PSIS,'' tutur Ketua Harian PSIS Simon Legiman.
Tak dapat dipungkiri, posisi GM sangat vital dalam sebuah tim sepak bola. Dia bertanggung jawab penuh pada kelangsungan tim yang dipegangnya. Bila berhasil, tentunya pujian yang akan dipanen. Tetapi bila kegagalan yang dituai, caci maki, hujatan akan terus datang menghampiri.
Merugi
Segala permasalahan dalam tim sepak bola harus dapat diatasi seorang GM, termasuk pendanaan yang menjadi problem klasik. Untuk itu, seorang GM setidaknya memiliki pondasi finansial kokoh, atau mau dan mampu mencarikan pemasukan membiayai tim.
Fenomena yang terjadi, pengelolaan PSIS selalu merugi. Ini menjadi momok para orang berduit untuk ikut ambil bagian. Mereka harus berpikir dua kali kalau ingin menjadikan tim ini sebagai ladang bisnis menguntungkan. Karena itu tak banyak pengusaha Semarang yang mau terjun langsung di tim ini.
Umumnya, para pengusaha meminta timbal balik setimbal dari kepala daerah saat bersedia mengelola tim yang ber-<I>home base<P> di Stadion Jatidiri. Seperti dalam kemudahan bisnis atau perizinan. Tanpa itu, mereka enggan mengeluarkan miliaran rupiah demi investasi yang terus merugi.
Pengusaha pelumas nasional Juliari Batubara pun dapat mencium hal itu. Dia mengingatkan kepada pengurus agar tidak menuntuk GM atau Ketua Umum yang sebenarnya memiliki maksud tertentu. Seperti demi mendapatkan proyek dari pemerintah, bertopeng di balik wajah PSIS.
''Jangan cari yang seperti itu. Tidak bagus dalam industri sepak bola. Kalau lagi dapat proyek, finansial tim aman. Tetapi saat tidak mendapatkan proyek, bisa jadi mengundurkan diri di tengah jalan. Bila sudah begini, PSIS lah yang dirugikan,'' tutur Juliari yang membantu pendanaan PSIS Rp 500 juta saat memasuki babak 12 besar.
www.suaramerdeka.com
Peran GM dalam Industri Sepak Bola
Siapa yang akan menjadi general manager (GM)
PSIS musim depan sedang menjadi pembicaraan hangat. Hingga saat ini,
pengurus atau pihak yang disebut-sebut pemiliki saham PT Laskar
Diponegoro belum menunjuk orang di posisi vital dalam manajemen itu.
Ada
kesan pengurus yang kini memiliki tanggung jawab moral pada nasib PSIS
terlalu selektif dalam memilih. Namun ada juga yang mengatakan, tak ada
calon GM yang tulus. Ada udang di balik batu begitu kata orang.
Karenanya, tak salah bila pengurus sangat berhati-hati.Lantas apakah GM itu? Seberapa pentingkah seorang GM bagi tim yang kini tengah berjuang untuk promosi ke Indonesia Super League (ISL)? Apa yang menyebabkan posisi itu masih kosong selepas masa bhakti Ferdinand Hindiarto selaku GM musim 2012/2013 habis?.
Dalam sebuah perusahaan, general manager atau juga disebut manajer umum adalah manajer yang memiliki tanggung jawab seluruh bagian/fungsional pada suatu perusahaan atau organisasi. Manajer umum memimpin beberapa unit bidang fungsi pekerjaan.
Mengepalai beberapa atau seluruh manajer fungsional. Pada perusahaan yang berskala kecil mungkin cukup diperlukan satu orang manajer umum. Adapun pada perusahaan atau organisasi berkaliber besar biasanya memiliki beberapa orang manajer umum yang bertanggung-jawab pada area tugas yang berbeda-beda.
Sekretaris PSSI Jateng Johar Lin Eng menuturkan, di Indonesia mulai menerapkan sepak bola industri sejak beberapa tahun lalu. Untuk tim-tim ISL, tingkatannya lebih banyak lagi, mulai dari CEO, direktur, (GM), manajer, pelatih dan seterusnya. Ada aturan PT Liga Indonesia (LI) yang menjadi acuan termasuk legalitas.
Sementara di level Divisi Utama lebih fleksibel. Tidak ketetapan dari PT LI yang meminta manajemen tim hingga hingga CEO. Pasalnya beberapa tim merombak manajemen di setiap musimnya. Dapat dikatakan, Divisi Utama adalah masa transaksi dari amatir ke profesional.
''GM hanyalah istilah. Di beberapa tim menyebutnya sebagai direktur. Pada prinsipnya, orang di posisi tersebut yang bertanggung jawab pada keseluruhan tim, mulai manajemen hingga struktur di bawahnya,'' tutur Johar yang juga pernah menjabat sebagai GM PSIS ini.
Di liga-liga eropa yang sudah fasih memahami profesionalisme memiliki jajaran manajemen lebih banyak lagi. Tertinggi dipegang oleh presiden klub, dibantu beberapa direktur yang fokus di bidangnya masing-masing. Pelatih pun merangkap sebagai manajer tim.
www.suaramerdeka.com
Hubungan PSIS dan Ancora, Bak Mengurai Benang Kusut
Hubungan PSIS dengan Ancora atau Setia Bina Nusa
(SBN) selalu hangat diberdebatkan. Ketidakjelasan, kerahasiaan
menjadikan permasalahan sulit diselesaikan. Kini di tangan Ketua Harian
Simon Legiman, Pengurus PSIS sedang berusaha mengurai benang kusut yang
ada.
Bila tak ingin salah langkah, tak ada salahnya pengurus PSIS diminta mendalami lagi kerja sama dengan PT Setia Bina Nusa (SBN). Pasalnya, hingga kini belum jelas komitmen apa dan sampai kapan anak perusahaan Ancora itu menjadi investor bagi tim kebanggaan warga Kota Semarang. Mantan Manajer Legal PSIS musim lalu Kairul Anwar menyebut, hal ini cukup sensitif.
Pasalnya menyangkut legalitas hukum dan hak kepemilikan atas klub itu sendiri. Karena itu, Laskar Mahesa Jenar tetap harus menghormati dan tak dapat meninggalkan begitu saja SBN.
''Meski dua musim mengalami wanprestasi, tetapi mereka tetap mengucurkan dana. Mungkin saat itu mereka masih kesulitan finansial. Tetapi hal itu belum dapat dijadikan dasar untuk memutuskan kerja sama sepihak. Kecuali mereka (SBN) menyatakan sudah tidak ingin menjadi investor PSIS,'' tutur Kairul.
Permasalahan ini mencuat saat ada wacana akan mencari investor baru musim depan. Padahal, saat ini masih terikat dengan PT Laskar Diponegoro dengan pemegang saham terbesar Ancora. Musim lalu, Ancora menunjuk SBN sebagai pengelola PSIS.
Sepintas, pihak Jakarta setengah-setengah dalam mengelola PSIS apalagi prestasi tak kunjung didapat. Namun, kekhawatiran muncul bila musim depan prestasi didapat seperti lolos Indonesia Super League (ISL), tetapi dengan bantuan investor lain. Ancora atau SBN bisa saja mengklaim dan meminta kembali tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri.
Hal itu tentu merugikan bagi pengusaha-pengusaha Kota Semarang yang telah berjuang mati-matian mendanai selama semusim. ''Dalam hal ini, Pengurus PSIS dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi harus bergerak. Berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak Jakarta untuk meminta kejelasan. Dengan begitu nasib tim musim depan akan lebih jelas,'' sambungnya.
Seperti yang diketahui, dua musim lalu Ancora datang layaknya dewa penyelamat tim-tim yang sedang butuh dana segar. Soemarmo HS yang saat itu menjadi Ketua Umum PSIS sepakat menyerahkan tim kepada perusahaan yang dibentuk Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Namun berjalannya waktu, Ancora mengalami krisis keuangan. SBN yang ditunjuk sebagai pengelola berikutnya pun mengalami masalah yang sama. Arema Indonesia yang juga menjadi klub binaan sudah keluar lebih dulu dari lubang hitam yang memborgol. Sementara PSIS masih terkatung-katung lantaran tidak ada ketegasan pengurus dan pemimpin daerah.
''Tugas berat bukan berada di tangan manajemen mendatang. Melainkan pengurus yang secara moril bertanggung jawab kepada PSIS. Untuk itu perlu ada yang menjembatani kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jangan sampai timbul masalah di kemudian hari,'' tandas Kairul.
www.suaramerdeka.com
Bila tak ingin salah langkah, tak ada salahnya pengurus PSIS diminta mendalami lagi kerja sama dengan PT Setia Bina Nusa (SBN). Pasalnya, hingga kini belum jelas komitmen apa dan sampai kapan anak perusahaan Ancora itu menjadi investor bagi tim kebanggaan warga Kota Semarang. Mantan Manajer Legal PSIS musim lalu Kairul Anwar menyebut, hal ini cukup sensitif.
Pasalnya menyangkut legalitas hukum dan hak kepemilikan atas klub itu sendiri. Karena itu, Laskar Mahesa Jenar tetap harus menghormati dan tak dapat meninggalkan begitu saja SBN.
''Meski dua musim mengalami wanprestasi, tetapi mereka tetap mengucurkan dana. Mungkin saat itu mereka masih kesulitan finansial. Tetapi hal itu belum dapat dijadikan dasar untuk memutuskan kerja sama sepihak. Kecuali mereka (SBN) menyatakan sudah tidak ingin menjadi investor PSIS,'' tutur Kairul.
Permasalahan ini mencuat saat ada wacana akan mencari investor baru musim depan. Padahal, saat ini masih terikat dengan PT Laskar Diponegoro dengan pemegang saham terbesar Ancora. Musim lalu, Ancora menunjuk SBN sebagai pengelola PSIS.
Sepintas, pihak Jakarta setengah-setengah dalam mengelola PSIS apalagi prestasi tak kunjung didapat. Namun, kekhawatiran muncul bila musim depan prestasi didapat seperti lolos Indonesia Super League (ISL), tetapi dengan bantuan investor lain. Ancora atau SBN bisa saja mengklaim dan meminta kembali tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri.
Hal itu tentu merugikan bagi pengusaha-pengusaha Kota Semarang yang telah berjuang mati-matian mendanai selama semusim. ''Dalam hal ini, Pengurus PSIS dan Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi harus bergerak. Berkomunikasi dan berkoordinasi dengan pihak Jakarta untuk meminta kejelasan. Dengan begitu nasib tim musim depan akan lebih jelas,'' sambungnya.
Seperti yang diketahui, dua musim lalu Ancora datang layaknya dewa penyelamat tim-tim yang sedang butuh dana segar. Soemarmo HS yang saat itu menjadi Ketua Umum PSIS sepakat menyerahkan tim kepada perusahaan yang dibentuk Menteri Perdagangan Gita Wirjawan.
Namun berjalannya waktu, Ancora mengalami krisis keuangan. SBN yang ditunjuk sebagai pengelola berikutnya pun mengalami masalah yang sama. Arema Indonesia yang juga menjadi klub binaan sudah keluar lebih dulu dari lubang hitam yang memborgol. Sementara PSIS masih terkatung-katung lantaran tidak ada ketegasan pengurus dan pemimpin daerah.
''Tugas berat bukan berada di tangan manajemen mendatang. Melainkan pengurus yang secara moril bertanggung jawab kepada PSIS. Untuk itu perlu ada yang menjembatani kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah yang ada. Jangan sampai timbul masalah di kemudian hari,'' tandas Kairul.
www.suaramerdeka.com
Rabu, 23 Oktober 2013
Andi Darussalam siap kelola PSIS, asal....
Di tengah ketidakpastian kapan mulai pembentukan tim, angin segar
berhembus ke PSIS Semarang. Angin segar itu datang dari Andi Darussalam.
Ketua KONI Sulawesi Selatan itu menyatakan berminat untuk memegang
kendali PSIS Semarang musim depan. Saat ditemui di kantor Pengprov PSSI
Jateng, komplek Stadion Citarum Semarang, Andi mengutarakan minatnya
tersebut.
Bahkan, dalam waktu dekat ini akan segera melakukan pertemuan dengan Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan ketua harian PSIS Semarang Simon Legiman. Dikatakannya, Dia siap menggarap PSIS Semarang habis-habisan dan membentuk tim yang kuat supaya lolos ISL musim depan. Namun dengan catatan PT Ancora, melepaskan Mahesa Jenar. “Kalau mau PSIS Saya tangani berikan saya kuasa,” katanya, Selasa (22/10/2013).
Ia menambahkan kuasa yang dimaksudnya bukan berarti membeli saham Ancora, tetapi hanya pada pengelolaan, sepenuhnya terhadap PSIS tanpa ada campur tangan dari Ancora.”Saya tidak mau kalau harus beli saham,” ucapnya.
Menurut Kakak kandung Nur Salam Tabusala (Direkur PT Setia Binanusa), ini menilai PSIS memiliki potensi yang sangat besar dan untuk mengangkatnya dibutuhkan pengelolaan dengan baik. “Saya sampaikan ke Nur Salam, kalau memang sudah tidak sanggup mengurus sepakbola, berikan saya kuasa atas nama Ancora, dan bersama dengan Walikota Semarang serta semua pihak, untuk mengelola PSIS,” tandasnya.
Menurutnya Acora melalui PT Setia Binanusa, telah berbuat kesalahan, dengan meninggalkan PSIS Semarang begitu saja dan hanya menghancurkan sepakbola Indonesia.”Catat itu, Gita Wiryawan (Pemilik Ancora) itu merusak sepakbola, pegang Arema ditinggalkan, PSIS ditinggalkan begitu saja, malah sekarang mengurus Badminton. Tidak bisa begitu, kasihan timnya,” ujarnya.
Dia pun berjanji bilamana Ancora memberikan kuasa penuh untuk mengendalikan PSIS Semarang musim depan, bakal membawa tim kebanggan warga Semarang tersebut ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Dia pun memberikan gambaran solusi untuk mengatasi minimnya dana tim. Salah satunya adalah melalui sistem babak asuh.
“Di Semarang itu ada puluhan perusahaan besar yang mengambil keuntungan di sini, jadikan mereka bapak asuh. Misalnya PSIS punya 25 pemain, titipkan sebagian pemain ke perusahaan –perusahaan, jadi gaji mereka akan ditanggung perusahaan, baru kemudian kekuranganya mencari sponsor tentunya tidak akan berat. Sebetulnya tidak ada susah asal gotong royong,” katanya.
Guna membentuk tim yang tangguh, kata Andi, PSIS paling tidak membutuhkan dana sekitar Rp7,5 -8 miliar. Dan yang terpenting segera melakukan persiapan mengingat kompetisi akan segera bergulir Januari mendatang.
Ketua Harian PSIS Semarang Simon Legiman mengaku sangat mendukung minat yang diutarakan oleh Andi Darussalam. “Rencananya kami akan bertemu hari Kamis (25/10). Tentu saya berharap, ada yang mau peduli dengan PSIS, jadi jelas akan memudahkan PSIS menuju ISL,” ujarnya.
www.sindonews.com
Bahkan, dalam waktu dekat ini akan segera melakukan pertemuan dengan Walikota Semarang Hendrar Prihadi dan ketua harian PSIS Semarang Simon Legiman. Dikatakannya, Dia siap menggarap PSIS Semarang habis-habisan dan membentuk tim yang kuat supaya lolos ISL musim depan. Namun dengan catatan PT Ancora, melepaskan Mahesa Jenar. “Kalau mau PSIS Saya tangani berikan saya kuasa,” katanya, Selasa (22/10/2013).
Ia menambahkan kuasa yang dimaksudnya bukan berarti membeli saham Ancora, tetapi hanya pada pengelolaan, sepenuhnya terhadap PSIS tanpa ada campur tangan dari Ancora.”Saya tidak mau kalau harus beli saham,” ucapnya.
Menurut Kakak kandung Nur Salam Tabusala (Direkur PT Setia Binanusa), ini menilai PSIS memiliki potensi yang sangat besar dan untuk mengangkatnya dibutuhkan pengelolaan dengan baik. “Saya sampaikan ke Nur Salam, kalau memang sudah tidak sanggup mengurus sepakbola, berikan saya kuasa atas nama Ancora, dan bersama dengan Walikota Semarang serta semua pihak, untuk mengelola PSIS,” tandasnya.
Menurutnya Acora melalui PT Setia Binanusa, telah berbuat kesalahan, dengan meninggalkan PSIS Semarang begitu saja dan hanya menghancurkan sepakbola Indonesia.”Catat itu, Gita Wiryawan (Pemilik Ancora) itu merusak sepakbola, pegang Arema ditinggalkan, PSIS ditinggalkan begitu saja, malah sekarang mengurus Badminton. Tidak bisa begitu, kasihan timnya,” ujarnya.
Dia pun berjanji bilamana Ancora memberikan kuasa penuh untuk mengendalikan PSIS Semarang musim depan, bakal membawa tim kebanggan warga Semarang tersebut ke kasta tertinggi sepakbola Indonesia. Dia pun memberikan gambaran solusi untuk mengatasi minimnya dana tim. Salah satunya adalah melalui sistem babak asuh.
“Di Semarang itu ada puluhan perusahaan besar yang mengambil keuntungan di sini, jadikan mereka bapak asuh. Misalnya PSIS punya 25 pemain, titipkan sebagian pemain ke perusahaan –perusahaan, jadi gaji mereka akan ditanggung perusahaan, baru kemudian kekuranganya mencari sponsor tentunya tidak akan berat. Sebetulnya tidak ada susah asal gotong royong,” katanya.
Guna membentuk tim yang tangguh, kata Andi, PSIS paling tidak membutuhkan dana sekitar Rp7,5 -8 miliar. Dan yang terpenting segera melakukan persiapan mengingat kompetisi akan segera bergulir Januari mendatang.
Ketua Harian PSIS Semarang Simon Legiman mengaku sangat mendukung minat yang diutarakan oleh Andi Darussalam. “Rencananya kami akan bertemu hari Kamis (25/10). Tentu saya berharap, ada yang mau peduli dengan PSIS, jadi jelas akan memudahkan PSIS menuju ISL,” ujarnya.
www.sindonews.com
Sabtu, 19 Oktober 2013
Kapten PSIS Musim Lalu, Mengeluh Gajinya Belum Dibayar
Kapten PSIS Semarang musim lalu, Iswandi, mengaku belum fokus untuk
mencarai klub baru. Pasalnya, saat ini dirinya sedang fokus pengurus
gaji yang belum dibayarkan oleh manajemen tim berjuluk Mahesa Jenar itu.
1 bulan gajinya dimusim lalu, sampai saat ini belum diterimanya.
"Sebenarnya ada klub yang menawarkan kontrak sama saya tapi belum cocok harganya. Tapi, saya saat ini ingin fokus dulu mengurus gaji saya yang belum dibayarkan manajemen PSIS," kata Iswandi Da'i kepada jaringnews.com via blackberry messenger-nya, Sabtu (19/10).
Iswandi mengaku, beberapa cara sudah ia lakukan untuk menagih haknya tersebut. Sayang, manajemen PSIS Semarang tidak menanggapinya sehingga haknya terbengkalai.
"Saya sering telepon untuk menanyakan hak saya itu. Tapi, telepon tidak diangkatnya. Manajemen belum membayar gaji pemain lainnya seperti Imral, Morris, Nuruh Huda. Ngga tahu alasannya apa", ujarnya.
Menurutnya, gaji yang belum dibayarkan manajemen PSIS itu sangat dibutuhkan untuk membiayai kehidupan keluarganya. Ia pun berharap, sepakbola Indonesia kedepannya bisa lebih baik lagi sehingga permasalahan gaji seperti yang dialaminya tidak terulang lagi.
"Semoga Sepakbola Indonesia bisa maju, ngga ada lagi masalah-masalah urusan telat gaji," tandasnya.
www.jaringnews.com
"Sebenarnya ada klub yang menawarkan kontrak sama saya tapi belum cocok harganya. Tapi, saya saat ini ingin fokus dulu mengurus gaji saya yang belum dibayarkan manajemen PSIS," kata Iswandi Da'i kepada jaringnews.com via blackberry messenger-nya, Sabtu (19/10).
Iswandi mengaku, beberapa cara sudah ia lakukan untuk menagih haknya tersebut. Sayang, manajemen PSIS Semarang tidak menanggapinya sehingga haknya terbengkalai.
"Saya sering telepon untuk menanyakan hak saya itu. Tapi, telepon tidak diangkatnya. Manajemen belum membayar gaji pemain lainnya seperti Imral, Morris, Nuruh Huda. Ngga tahu alasannya apa", ujarnya.
Menurutnya, gaji yang belum dibayarkan manajemen PSIS itu sangat dibutuhkan untuk membiayai kehidupan keluarganya. Ia pun berharap, sepakbola Indonesia kedepannya bisa lebih baik lagi sehingga permasalahan gaji seperti yang dialaminya tidak terulang lagi.
"Semoga Sepakbola Indonesia bisa maju, ngga ada lagi masalah-masalah urusan telat gaji," tandasnya.
www.jaringnews.com
Jumat, 18 Oktober 2013
Sejumlah Pemain Pantau Perkembangan PSIS
Meski kembali gagal promosi ke Indonesia Super League (ISL), PSIS
masih memiliki daya tarik tersendiri. Tak hanya para pelatih, namun juga
sejumlah pemain yang masih berharap dapat kembali berkostum tim
berjuluk Laskar Mahesa Jenar.Hingga saat ini, mereka menunggu
perkembangan PSIS melalui berbagai sumber informasi. Mulai dari media
massa, online atau dari orang-orang di Semarang. Harapannya, tim
kebanggaan warga Kota Semarang segera bergegas menatap musim mendatang.
Dua pemain senior musim lalu, gelandang M Irfan dan kiper Catur Adi Nugroho misalnya. Selama membela PSIS, meninggalkan banyak kenangan yang tak terlupakan. Namun, ada perasaan yang masih mengganjal setelah laju tim terhenti di 12 besar dan gagal promosi ke ISL.
''PSIS tak hanya memiliki nama besar, namun juga dukungan fanatik dari dua suporter setia yakni Panser Biru dan Snex. Hal itu yang membuat saya menaruh PSIS sebagai prioritas utama musim depan,'' tutur M Irfan.
Pernyataan senada dilontarkan Catur Adi Nugroho. Hampir seluruh pertandingan yang dilakoni PSIS, menempatkan kiper yang satu ini sebagai penjaga gawang utama. Saat berkostum PSIS, dia merasakan adanya chemistry yang hingga kini tak dapat dilupakan.
''Saya terus memantau perkembangan PSIS. Mudah-mudahan segera terbentuk dan saya bisa kembali masuk tim. Musim depan tentunya persaingan akan lebih berat mengingat jumlah tim Divisi Utama bertambah banyak. Karena itu harus dipersiapkan lebih matang,'' sambung Catur.
Meski telah semusim membela tim ISL Persisam Putra Samarinda, tak membuat bek Achmad Sumardi melupakan tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri. Karena ingin dekat dengan rumah, pemain asal Purwodadi tak akan menyia-nyiakan bila ada kesempatan kembali ke PSIS. ''Lihat perkembangan yang ada. Bila ada kecocokan, tentunya saya ingin kembali,'' tutur pemain PSIS musim 2011/2012 itu.
Para pemain tersebut harus lebih bersabar. Pasalnya, hingga saat ini belum ada langkah nyata pergerakan PSIS seperti pembentukan manajemen, menunjuk pelatih atau membentuk tim. Pengurus sedang mendekati sejumlah pengusaha untuk membantu tim.
www.suaramerdeka.com
Dua pemain senior musim lalu, gelandang M Irfan dan kiper Catur Adi Nugroho misalnya. Selama membela PSIS, meninggalkan banyak kenangan yang tak terlupakan. Namun, ada perasaan yang masih mengganjal setelah laju tim terhenti di 12 besar dan gagal promosi ke ISL.
''PSIS tak hanya memiliki nama besar, namun juga dukungan fanatik dari dua suporter setia yakni Panser Biru dan Snex. Hal itu yang membuat saya menaruh PSIS sebagai prioritas utama musim depan,'' tutur M Irfan.
Pernyataan senada dilontarkan Catur Adi Nugroho. Hampir seluruh pertandingan yang dilakoni PSIS, menempatkan kiper yang satu ini sebagai penjaga gawang utama. Saat berkostum PSIS, dia merasakan adanya chemistry yang hingga kini tak dapat dilupakan.
''Saya terus memantau perkembangan PSIS. Mudah-mudahan segera terbentuk dan saya bisa kembali masuk tim. Musim depan tentunya persaingan akan lebih berat mengingat jumlah tim Divisi Utama bertambah banyak. Karena itu harus dipersiapkan lebih matang,'' sambung Catur.
Meski telah semusim membela tim ISL Persisam Putra Samarinda, tak membuat bek Achmad Sumardi melupakan tim yang bermarkas di Stadion Jatidiri. Karena ingin dekat dengan rumah, pemain asal Purwodadi tak akan menyia-nyiakan bila ada kesempatan kembali ke PSIS. ''Lihat perkembangan yang ada. Bila ada kecocokan, tentunya saya ingin kembali,'' tutur pemain PSIS musim 2011/2012 itu.
Para pemain tersebut harus lebih bersabar. Pasalnya, hingga saat ini belum ada langkah nyata pergerakan PSIS seperti pembentukan manajemen, menunjuk pelatih atau membentuk tim. Pengurus sedang mendekati sejumlah pengusaha untuk membantu tim.
www.suaramerdeka.com
Eko Purjianto tersanjung masuk bursa pelatih PSIS
Nama Eko Purjianto semakin santer diisukan bakal menukangi PSIS Semarang
musim depan. Terlebih setelah, Eko yang menjadi asisten pelatih Timnas
U-19 sukses mengantarkan Evan Dimas Dkk gelar Piala AFF 2013 dan
meloloskan Timnas U-19 ke babak final Piala AFC.
Nama Eko Purjianto jelas tidak asing bagi PSIS, karena pada musim lalu Eko merupakan asisten Pelatih PSIS Firmandoyo. Meski musim lalu gagal membawa PSIS lolos ke Indonesia Super League (ISL) namun, paling tidak PSIS berhasil lolos ke babak 12 besar.
Dengan keberhasilan Eko dan metode melatihnya yang baik, serta pengalamannya yang sudah cukup banyak, Ketua Harian PSIS Simon Legiman pun beberapa waktu lalu, secara terang-terangan menyatakan, Eko Purjianto merupakan sosok yang tepat untuk mengarsiteki Laskar Mahesa Jenar-Julukan PSIS musim depan.
Eko Purjianto sendiri mengaku tersanjung dan merasa terhormat apabila dirinya diminati untuk menjadi pelatih kepala tim sebesar PSIS musim depan.
Namun, Demikian Eko belum berani menyatakan bahwa dirinya siap untuk memegang kendali PSIS atau menolak jika ditawari penjadi pelatih kepala. Hal ini dikarenakan sampai saat ini juga PSIS belum menunjukan persiapan pembentukan tim dan belum ada permintaan resmi dari PSIS. Di sisi lain, Eko sendiri sampai saat ini juga masih menjadi bagian dari Timnas U-19 sampai Oktober 2014. "Saya tersanjung sekali kalau memang diminta untuk PSIS," katanya.
Dijelaskan Eko, apabila nantinya benar-benar diberi tawaran untuk megang PSIS musim depan, Dirinya tidak mungkin bisa menolaknya. Selain merasa nyaman di PSIS, nama besar PSIS juga menjadi pertimbangana tersendiri.
Namun, dengan dirinya masih menjadi bagian dari Timnas U-19, tidak bisa dengan mudah menerima tawaran menjadi pelatih, karena harus mengikuti semua program dari Timnas.
Oleh sebab itu, sambung Eko, Dirinya harus berkonsultasi dengan Pelatih kepala Timnas Indra Safri, dan BTN, apabila dirinya menerima pinangan PSIS atau klub lain. "Saya tidak mungkin bisa menolak kalau diminta ke PSIS lagi, tapi saya juga perlu konsultasi kepada pelatih kepala dan BTN," imbuhnya.
Eko tidak ingin, apabila dirinya nanti ditawari dan membesut PSIS, tanpa konsultasi dulu ke pelatih kepala dan BTN, bisa-bisa mengganggu Timnas dan PSIS. "Saya ingin tidak mengganggu timnas, dan PSIS, jadi harus dipikirkan dengan baik-baik, dan konsultasi sebelum menentukan jawaban, karena berkaitan dengan prestasi tim," katanya.
Eko mengaku, sebelum benar-benar ada tawaran dari PSIS, dirinya lebih memilih fokus terlebih dahulu terhadap Timnas.
Mengenai Program Timnas, Eko mengatakan, usai memastikan diri lolos babak Final Piala AFC, semua pemain dan official diliburkan dan baru akan berkumpul kembali untuk membahas program selanjutnya. "Masih ada beberapa program untuk menggodog Timnas, oleh sebab itu sekarang saya fokus dulu ke Timnas, dan belum memikirkan yang lain," tandasnya.
www.sindonews.com
Nama Eko Purjianto jelas tidak asing bagi PSIS, karena pada musim lalu Eko merupakan asisten Pelatih PSIS Firmandoyo. Meski musim lalu gagal membawa PSIS lolos ke Indonesia Super League (ISL) namun, paling tidak PSIS berhasil lolos ke babak 12 besar.
Dengan keberhasilan Eko dan metode melatihnya yang baik, serta pengalamannya yang sudah cukup banyak, Ketua Harian PSIS Simon Legiman pun beberapa waktu lalu, secara terang-terangan menyatakan, Eko Purjianto merupakan sosok yang tepat untuk mengarsiteki Laskar Mahesa Jenar-Julukan PSIS musim depan.
Eko Purjianto sendiri mengaku tersanjung dan merasa terhormat apabila dirinya diminati untuk menjadi pelatih kepala tim sebesar PSIS musim depan.
Namun, Demikian Eko belum berani menyatakan bahwa dirinya siap untuk memegang kendali PSIS atau menolak jika ditawari penjadi pelatih kepala. Hal ini dikarenakan sampai saat ini juga PSIS belum menunjukan persiapan pembentukan tim dan belum ada permintaan resmi dari PSIS. Di sisi lain, Eko sendiri sampai saat ini juga masih menjadi bagian dari Timnas U-19 sampai Oktober 2014. "Saya tersanjung sekali kalau memang diminta untuk PSIS," katanya.
Dijelaskan Eko, apabila nantinya benar-benar diberi tawaran untuk megang PSIS musim depan, Dirinya tidak mungkin bisa menolaknya. Selain merasa nyaman di PSIS, nama besar PSIS juga menjadi pertimbangana tersendiri.
Namun, dengan dirinya masih menjadi bagian dari Timnas U-19, tidak bisa dengan mudah menerima tawaran menjadi pelatih, karena harus mengikuti semua program dari Timnas.
Oleh sebab itu, sambung Eko, Dirinya harus berkonsultasi dengan Pelatih kepala Timnas Indra Safri, dan BTN, apabila dirinya menerima pinangan PSIS atau klub lain. "Saya tidak mungkin bisa menolak kalau diminta ke PSIS lagi, tapi saya juga perlu konsultasi kepada pelatih kepala dan BTN," imbuhnya.
Eko tidak ingin, apabila dirinya nanti ditawari dan membesut PSIS, tanpa konsultasi dulu ke pelatih kepala dan BTN, bisa-bisa mengganggu Timnas dan PSIS. "Saya ingin tidak mengganggu timnas, dan PSIS, jadi harus dipikirkan dengan baik-baik, dan konsultasi sebelum menentukan jawaban, karena berkaitan dengan prestasi tim," katanya.
Eko mengaku, sebelum benar-benar ada tawaran dari PSIS, dirinya lebih memilih fokus terlebih dahulu terhadap Timnas.
Mengenai Program Timnas, Eko mengatakan, usai memastikan diri lolos babak Final Piala AFC, semua pemain dan official diliburkan dan baru akan berkumpul kembali untuk membahas program selanjutnya. "Masih ada beberapa program untuk menggodog Timnas, oleh sebab itu sekarang saya fokus dulu ke Timnas, dan belum memikirkan yang lain," tandasnya.
www.sindonews.com
Selasa, 15 Oktober 2013
Simon Segera Temui Pengurus
Setelah menyelesaikan kompetisi 2012/ 2013, PSIS berada pada kondisi
tidak menentu. Sudah dua bulan berselang, belum ada langkah nyata
menghadapi musim depan. Sebagai tanggung jawab moral, kini nasib Laskar
Mahesa Jenar ada di tangan pengurus.
Ketua Harian PSIS Simon Legiman menuturkan, akan bertemu dengan sejumlah pengurus. Agendanya membahas kelangsungan tim menghadapi musim mendatang. Pada prinsipnya, dia juga tidak ingin PSIS terus berada pada keadaan serba tak menentu.
”Saya akan bertemu dengan Johar Lin Eng dan Setyo Agung Nugroho besok pagi (hari inired). Dari pertemuan itu baru diputuskan langkah selanjutnya. Seperti mengumpulkan 25 perkumpulan sepak bola (PS), menunjuk ketua umum atau menunjuk manajemen,” tuturnya.
Pertemuan tersebut juga akan membicarakan bagaimana hubungan dengan Ancora atau Setia Bina Nusa (SBN). Ada beberapa hal yang membuat pengurus tidak dapat berjalan sendiri. Di sisi lain, investor tersebut masih menggantungkan nasib tim kebanggaan warga Kota Semarang. Setelah masuknya investor asal Jakarta, pengurus hanya bersifat mengusulkan jajaran manajemen.
Didukung Sekum
Sedangkan yang menetapkan dan memutuskan adalah dari Ancora dan SBN. Hal itu dikarenakan perusahaan investasi itu memiliki saham terbesar pada PT Laskar Diponegoro yang menjadi badan hukum PSIS.
”Kalau penunjukkan ketua umum, saya rasa tidak perlu berkoordinasi dengan SBN. Tetapi saya tidak tahu mekanisme dalam pembentukan manajemen.
Pasalnya, saat terjadi kesepakatan, kami tidak pernah dilibatkan,” sambung mantan manajer PSIS itu. Sekum PSIS Setyo Agung Nugroho pun mendukung keinginan Simon. Pada prinsipnya, pengurus ingin segera bergerak mengingat waktu persiapan menghadapi musim mendatang sudah tidak lama lagi.
Apakah akan menunjuk ketua umum atau manajemen dulu, dia sudah siap. ”Setelah Porprov Jateng 2013 berakhir, pengurus dan beberapa pihak terkait bisa lebih fokus memikirkan PSIS. Mudahmudahan dalam waktu dekat ini tercipta hasil positif yang dapat memajukan PSIS,” tutur pria yang musim lalu menjabat sebagai manajer tim itu.
Sementara itu, perwakilan 25 PS merespon positif keinginan pengurus harian PSIS yang akan mengadakan pertemuan membahas nasib tim. Mereka pun menanti-nanti kapan agenda tersebut terlaksana mengingat tak banyak waktu lagi yang dimiliki PSIS.
www.suaramerdeka.com
Ketua Harian PSIS Simon Legiman menuturkan, akan bertemu dengan sejumlah pengurus. Agendanya membahas kelangsungan tim menghadapi musim mendatang. Pada prinsipnya, dia juga tidak ingin PSIS terus berada pada keadaan serba tak menentu.
”Saya akan bertemu dengan Johar Lin Eng dan Setyo Agung Nugroho besok pagi (hari inired). Dari pertemuan itu baru diputuskan langkah selanjutnya. Seperti mengumpulkan 25 perkumpulan sepak bola (PS), menunjuk ketua umum atau menunjuk manajemen,” tuturnya.
Pertemuan tersebut juga akan membicarakan bagaimana hubungan dengan Ancora atau Setia Bina Nusa (SBN). Ada beberapa hal yang membuat pengurus tidak dapat berjalan sendiri. Di sisi lain, investor tersebut masih menggantungkan nasib tim kebanggaan warga Kota Semarang. Setelah masuknya investor asal Jakarta, pengurus hanya bersifat mengusulkan jajaran manajemen.
Didukung Sekum
Sedangkan yang menetapkan dan memutuskan adalah dari Ancora dan SBN. Hal itu dikarenakan perusahaan investasi itu memiliki saham terbesar pada PT Laskar Diponegoro yang menjadi badan hukum PSIS.
”Kalau penunjukkan ketua umum, saya rasa tidak perlu berkoordinasi dengan SBN. Tetapi saya tidak tahu mekanisme dalam pembentukan manajemen.
Pasalnya, saat terjadi kesepakatan, kami tidak pernah dilibatkan,” sambung mantan manajer PSIS itu. Sekum PSIS Setyo Agung Nugroho pun mendukung keinginan Simon. Pada prinsipnya, pengurus ingin segera bergerak mengingat waktu persiapan menghadapi musim mendatang sudah tidak lama lagi.
Apakah akan menunjuk ketua umum atau manajemen dulu, dia sudah siap. ”Setelah Porprov Jateng 2013 berakhir, pengurus dan beberapa pihak terkait bisa lebih fokus memikirkan PSIS. Mudahmudahan dalam waktu dekat ini tercipta hasil positif yang dapat memajukan PSIS,” tutur pria yang musim lalu menjabat sebagai manajer tim itu.
Sementara itu, perwakilan 25 PS merespon positif keinginan pengurus harian PSIS yang akan mengadakan pertemuan membahas nasib tim. Mereka pun menanti-nanti kapan agenda tersebut terlaksana mengingat tak banyak waktu lagi yang dimiliki PSIS.
www.suaramerdeka.com
Senin, 14 Oktober 2013
PSIS target Oktober punya bos baru
PSIS Semarang tidak mengalami perkembangan signifikan sejak berakhirnya
Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah di Banyumas, 12 Oktober
lalu. Pengurus klub tengah merancang Musyawarah Anggota Luar Biasa
(Musanglub) untuk memilih ketua umum yang baru. Pembentukan manajemen
dan tim kemungkinan baru dilangsungkan setelah itu.
Ketua Harian PSIS Semarang Simon Legiman mengatakan, sampai saat ini masih belum mamastikan kapan akan digelar musyawarah luar biasa. Namun, dirinya memastikan, pemilihan ketua umum dilaksanakan pada Oktober ini. "Targetnya Oktober, PSIS sudah memiliki ketua umum baru,” jelas Simon Legiman.
Simon menjelaskan sampai saat ini dirinya masih terus berkonsultasi dengan sekum PSSI Jateng Johar Lin Eng yang juga merupakan penasihat PSIS, mengenai waktu dan format pemilihan yang akan digunakan. ''Nanti kalau sudah ada kepastian akan kami sampaikan,” imbuhnya.
Simon mengaku, pengurus juga tidak ingin telalu lama menunda-nunda pemilihan ketua umum PSIS yang baru, karena jika terlalu lama juga akan berdampak pada persiapan tim, dalam menghadapi kompetisi Divisi Utama Indonesia Super League (ISL) musim depan.
Sementara itu dari kalangan suporter menilai, langkah pengurus harian PSIS lamban dalam mengambil sikap. Ketua umum Panser Biru Mario Baskoro menganggap, pemilihan ketua umum PSIS belum begitu mendesak mengingat masa berakhirnya ketum PSIS Soemarmo yang saat ini berhalangan, akan berakhir 2014 mendatang.
Dia menilai, sebaiknya pengurus lebih mendahulukan untuk membentuk manajemen lebih dahulu ketimbang memilih ketua umum baru. ”Logikanya, musim lalu walaupun ketua umum berhalangan toh PSIS tetap bisa jalan, jadi sebaiknya lebih mendahulukan pembentukan manajemen supaya manajemen bisa segera membentuk tim,” ujar Mario.
Andik Sismanto - www.sindonews.com
Ketua Harian PSIS Semarang Simon Legiman mengatakan, sampai saat ini masih belum mamastikan kapan akan digelar musyawarah luar biasa. Namun, dirinya memastikan, pemilihan ketua umum dilaksanakan pada Oktober ini. "Targetnya Oktober, PSIS sudah memiliki ketua umum baru,” jelas Simon Legiman.
Simon menjelaskan sampai saat ini dirinya masih terus berkonsultasi dengan sekum PSSI Jateng Johar Lin Eng yang juga merupakan penasihat PSIS, mengenai waktu dan format pemilihan yang akan digunakan. ''Nanti kalau sudah ada kepastian akan kami sampaikan,” imbuhnya.
Simon mengaku, pengurus juga tidak ingin telalu lama menunda-nunda pemilihan ketua umum PSIS yang baru, karena jika terlalu lama juga akan berdampak pada persiapan tim, dalam menghadapi kompetisi Divisi Utama Indonesia Super League (ISL) musim depan.
Sementara itu dari kalangan suporter menilai, langkah pengurus harian PSIS lamban dalam mengambil sikap. Ketua umum Panser Biru Mario Baskoro menganggap, pemilihan ketua umum PSIS belum begitu mendesak mengingat masa berakhirnya ketum PSIS Soemarmo yang saat ini berhalangan, akan berakhir 2014 mendatang.
Dia menilai, sebaiknya pengurus lebih mendahulukan untuk membentuk manajemen lebih dahulu ketimbang memilih ketua umum baru. ”Logikanya, musim lalu walaupun ketua umum berhalangan toh PSIS tetap bisa jalan, jadi sebaiknya lebih mendahulukan pembentukan manajemen supaya manajemen bisa segera membentuk tim,” ujar Mario.
Andik Sismanto - www.sindonews.com
25 PS Merespons Positif
Perwakilan 25 perkumpulan sepak bola (PS) merespons positif keinginan
pengurus harian PSIS yang akan mengadakan pertemuan membahas nasib tim.
Mereka pun menanti-nanti kapan agenda tersebut terlaksana mengingat tak
banyak waktu lagi.Pengurus Romeo Rudi Wijaya misalnya. Pihaknya
siap memberikan curahan pemikiran dan tenaga bagi tim kebanggaan warga
Kota Semarang. Bisa jadi nasib Laskar Mahesa Jenar tergantung pada
pertemuan tersebut, mengingat sejauh ini belum ada langkah nyata.
”Ya tapi jangan hanya sebagai formalitas saja, misalnya dalam menunjuk ketua umum. Seharunya, mulai dari awal hingga akhir kompetisi, 25 PS terus dilibatkan. Memang masalah dana, PS tidak dapat banyak membantu. Namun bisa dipecahkan bersama-sama,” tutur Rudi yang juga manajer tim sepak bola Kota Semarang di Porprov Banyumas 2013.
Menurutnya, Plt Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memang enggan menjadi ketua umum PSIS, tetapi bukan berarti lepas tangan begitu saja. Melainkan dapat memberikan arahan bagi PSIS. Meski tak turun langsung, sebagai bapaknya orang Semarang memiliki tanggung jawab menyelamatkan aset berharga daerah.
Kerangka Tim
Langkah konkrit yang harus dilakukan adalah segera menunjuk manajemen. Dalam hal ini, imbuhnya, manajemen awal tidak harus lengkap, atau bersifat sementara. Manajemen tersebut dapat membuat program untuk persiapan menghadapi Divisi Utama musim depan. ”Minimal kerangka tim dapat terbentuk. Salah satunya mengumpulkan pemain potensial, seperti punggawa muda PSIS musim lalu atau sejumlah pemain Semarang yang beberapa waktu lalu tampil di Porprov Banyumas. Artinya harus ada langkah nyata,” sambungnya.
Pernyataan senada dilontarkan Bidang Pembinaan dan Prestasi PS Undip Sumardi Widodo. Dia menyebut, bila agenda penunjukkan ketua umum mengalami kendala, pengurus dapat lebih dulu menunjuk manajemen. Dalam aturan organisasi, pengurus harian baik itu ketua harian maupun sekretaris dapat sama-sama mengeluarkan keputusan bila ketua umum berhalangan.
”Bagaimana PSIS mau jalan bila manajemen belum terbentuk. Saya cermati, sejauh ini hanya wacana-wacana yang diapungkan, tetapi tidak ada langkah nyata di lapangan. Bila memang Divisi Utama diputar Januari 2014, tentunya waktu yang dimiliki sudah tidak banyak lagi,” tutur mantan pelatih fisik PSIS itu.
suaramerdeka.com
”Ya tapi jangan hanya sebagai formalitas saja, misalnya dalam menunjuk ketua umum. Seharunya, mulai dari awal hingga akhir kompetisi, 25 PS terus dilibatkan. Memang masalah dana, PS tidak dapat banyak membantu. Namun bisa dipecahkan bersama-sama,” tutur Rudi yang juga manajer tim sepak bola Kota Semarang di Porprov Banyumas 2013.
Menurutnya, Plt Wali Kota Semarang Hendrar Prihadi memang enggan menjadi ketua umum PSIS, tetapi bukan berarti lepas tangan begitu saja. Melainkan dapat memberikan arahan bagi PSIS. Meski tak turun langsung, sebagai bapaknya orang Semarang memiliki tanggung jawab menyelamatkan aset berharga daerah.
Kerangka Tim
Langkah konkrit yang harus dilakukan adalah segera menunjuk manajemen. Dalam hal ini, imbuhnya, manajemen awal tidak harus lengkap, atau bersifat sementara. Manajemen tersebut dapat membuat program untuk persiapan menghadapi Divisi Utama musim depan. ”Minimal kerangka tim dapat terbentuk. Salah satunya mengumpulkan pemain potensial, seperti punggawa muda PSIS musim lalu atau sejumlah pemain Semarang yang beberapa waktu lalu tampil di Porprov Banyumas. Artinya harus ada langkah nyata,” sambungnya.
Pernyataan senada dilontarkan Bidang Pembinaan dan Prestasi PS Undip Sumardi Widodo. Dia menyebut, bila agenda penunjukkan ketua umum mengalami kendala, pengurus dapat lebih dulu menunjuk manajemen. Dalam aturan organisasi, pengurus harian baik itu ketua harian maupun sekretaris dapat sama-sama mengeluarkan keputusan bila ketua umum berhalangan.
”Bagaimana PSIS mau jalan bila manajemen belum terbentuk. Saya cermati, sejauh ini hanya wacana-wacana yang diapungkan, tetapi tidak ada langkah nyata di lapangan. Bila memang Divisi Utama diputar Januari 2014, tentunya waktu yang dimiliki sudah tidak banyak lagi,” tutur mantan pelatih fisik PSIS itu.
suaramerdeka.com
Skuad PSIS musim lalu masih tunggu kepastian
PSIS Semarang sampai saat ini masih belum menunjukan geliatnya untuk
melakukan persiapan pembentukan tim. Jangankan, pembentukan tim,
pembentukan manajemen saja, masih harus menunggu pemilihan ketua umum
PSIS yang baru yang belum tahu kapan akan dilakukan.
Namun demikian, sejumlah pemain PSIS musim lalu masih sabar menunggu dan tetap berharap bisa kembali bergabung dengan PSIS Semarang.
Bek PSIS musim lalu, Fauzan Fajri misalnya. Dia menyatakan, meskipun saat ini sudah mendapatkan tawaran dari PSCS Cilacap, namun dirinya belum berani memberikan kepastian karena masih menunggu keputusan dari PSIS.
Fauzan mengaku, masih ingin membela PSIS Semarang musim depan jika dirinya kembali dipanggil oleh tim pelatih. Keinginan Fauzan tersebut didasari karena merasa tertantang, setelah musim lalu gagal membawa PSIS lolos ISL.
“Saya ditelepon langsung oleh pelatih PSCS (Gatot Barnowo) menawari saya untuk bergabung, tapi belum saya berikan jawaban, karena saya masih ingin menunggu PSIS,” ujarnya.
Fauzan merupakan salah satu pemain muda yang cukup diperhitungkan. Selama berkostum PSIS Semarang, manta kapten Tim PON Jateng ini cukup konsisten dalam bermain. Sehingga tak salah jika sejumlah tim sudah mulai memperebutkannya. Bahkan manajemen PSIS musim lalu merekomendasikan nama Fauzan untuk tetap dipertahankan. Selain Fauzan, terdapat enam pemain muda lain yang juga dapat nilai positif yaitu Harry Nur Yulianto, Saiful Amar, Rizky Yulian, Ryco Fernanda, Ipan Priyanto dan Vidi Hasiholan.
Fauzan berharap, segera ada kepastian dari PSIS sehingga para pemain musim lalu yang masih berminat untuk bergabung bersama PSIS segera mendapatkan kepastian. “Yang pasti saya tunggu dulu, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kepastian,” ucapnya.
Pemain lain yang menyatakan masih tetap ingin menunggu kepastian pembentukan tim PSIS adalah Saiful Amar. Pemain yang berposisi muda yang juga jebolan PON Jateng ini berharap, PSIS segera melakukan pembentukan tim.
Saiful mengaku, sebenarnya sudah mendapatkan tawaran dari beberap tim di Divisi Utama, namun dirinya tetap memilih untuk menunggu keputusan dari PSIS.”Tawaran sih sudah ada, tapi saya merasa masih ingin bertahan di PSIS. Admosfir PSIS cukup kondusif dan merasa kerasan,” ungkapnya.
Tidak hanya pemain-pemain muda yang menunggu kepastian kapan dibentuknya tim PSIS, pemain senior musim lalu pun demikian. Sebut saja, Ronald Fagundez, M.Irvan dan Iksan Sania. Ketiganya menyatakan siap kembali bergabung jika musim depan kembali dipanggil.”Saya secara pribadi masih ingin di PSIS, meskipun jauh dari keluarga, tapi kondisi di PSIS sangat kondusif,” kata Iksan Sania.
Andik Sismanto - sindonews.com
Namun demikian, sejumlah pemain PSIS musim lalu masih sabar menunggu dan tetap berharap bisa kembali bergabung dengan PSIS Semarang.
Bek PSIS musim lalu, Fauzan Fajri misalnya. Dia menyatakan, meskipun saat ini sudah mendapatkan tawaran dari PSCS Cilacap, namun dirinya belum berani memberikan kepastian karena masih menunggu keputusan dari PSIS.
Fauzan mengaku, masih ingin membela PSIS Semarang musim depan jika dirinya kembali dipanggil oleh tim pelatih. Keinginan Fauzan tersebut didasari karena merasa tertantang, setelah musim lalu gagal membawa PSIS lolos ISL.
“Saya ditelepon langsung oleh pelatih PSCS (Gatot Barnowo) menawari saya untuk bergabung, tapi belum saya berikan jawaban, karena saya masih ingin menunggu PSIS,” ujarnya.
Fauzan merupakan salah satu pemain muda yang cukup diperhitungkan. Selama berkostum PSIS Semarang, manta kapten Tim PON Jateng ini cukup konsisten dalam bermain. Sehingga tak salah jika sejumlah tim sudah mulai memperebutkannya. Bahkan manajemen PSIS musim lalu merekomendasikan nama Fauzan untuk tetap dipertahankan. Selain Fauzan, terdapat enam pemain muda lain yang juga dapat nilai positif yaitu Harry Nur Yulianto, Saiful Amar, Rizky Yulian, Ryco Fernanda, Ipan Priyanto dan Vidi Hasiholan.
Fauzan berharap, segera ada kepastian dari PSIS sehingga para pemain musim lalu yang masih berminat untuk bergabung bersama PSIS segera mendapatkan kepastian. “Yang pasti saya tunggu dulu, dan mudah-mudahan dalam waktu dekat sudah ada kepastian,” ucapnya.
Pemain lain yang menyatakan masih tetap ingin menunggu kepastian pembentukan tim PSIS adalah Saiful Amar. Pemain yang berposisi muda yang juga jebolan PON Jateng ini berharap, PSIS segera melakukan pembentukan tim.
Saiful mengaku, sebenarnya sudah mendapatkan tawaran dari beberap tim di Divisi Utama, namun dirinya tetap memilih untuk menunggu keputusan dari PSIS.”Tawaran sih sudah ada, tapi saya merasa masih ingin bertahan di PSIS. Admosfir PSIS cukup kondusif dan merasa kerasan,” ungkapnya.
Tidak hanya pemain-pemain muda yang menunggu kepastian kapan dibentuknya tim PSIS, pemain senior musim lalu pun demikian. Sebut saja, Ronald Fagundez, M.Irvan dan Iksan Sania. Ketiganya menyatakan siap kembali bergabung jika musim depan kembali dipanggil.”Saya secara pribadi masih ingin di PSIS, meskipun jauh dari keluarga, tapi kondisi di PSIS sangat kondusif,” kata Iksan Sania.
Andik Sismanto - sindonews.com
Sabtu, 12 Oktober 2013
POLITIK NO, PRESTASI YES!
Santernya isu politik yang masuk di tubuh PSIS Semarang, membuat ketua
pengurus harian PSIS Semarang Simon Legiman angkat bicara. Simon
menyakini, politik tidak akan masuk ke PSIS, dan pengurus yang akan
menggunakan PSIS sebagai alat untuk mendapatkan masa tidak akan pernah
bisa dilakukan.
Simon mengakui, memang banyaknya supporter Panser Biru dan Snex yang menjadi supporter fanatik Mahesa Jenar – Julukan PSIS- memiliki potensi besar untuk mendulang suara. Namun demikian, Simon yakin tidak semudah itu bisa mengarahkan supporter, karena memang supporter saat ini sudah pintar dalam menentukan pilihan.
“Saya yakin Suporter saat ini sudah semakin pintar, mereka bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak,” kata Ketua Pengurus Harian PSIS Simon Legiman.
Dikatakannya, supporter memberikan dukungan dengan begitu antusianya kepada PSIS, bukan karena siapa dibalik PSIS, tetapi karena PSIS-nya.”Mereka (Supoter) tidak akan peduli siapa dibelakang PSIS, yang mereka pedulikan adalah orang dibalik PSIS bisa membawa prestasi,” katanya.
Ketua Umum Panser Biru Mario Baskoro menyatakan, para supporter tidak akan memperdulikan siapapun yang akan memegang PSIS Semarang, baik itu dari kalangan pengusaha atau kalangan politik yang terpenting adalah mampu membawa PSIS kembali Berjaya.
“Kalau kami dari supporter siapapun yang memegang PSIS tidak masalah, asalkan mampu membawa PSIS berprestasi,” katanya.
Diapun mengakui, dengan banyaknya supporter PSIS , sangat menggiurkan bagi para elit politik untuk mendapatkan dukungan dari supporter, terlebih saat ini mendekati Pemilu Legislatif dan sebentar lagi tahun 2015 pemilihan Walikota Semarang.
“Kita (pengurus Panser) tidak bisa melarang ataupun mengendalikan anggota untuk mendukung atau tidak mendukung salah satu, karena itu menjadi hak masing-masing anggota. Tapi kami sudah wanti-wanti jangan menggunakan nama organisasi,” tandasnya.
Mario pun meyakini, jika pengurus PSIS ingin menggalang suara dari para supporter dijamin tidak akan mudah, karena memang saat ini supporter sudah semakin pintar menentukan pilihan. “Misalkan si A (pengurus PSIS) bisa membawa Prestasi PSIS, belum tentu kalau Dia mencalonkan diri sebagai Dewan atau Walikota bakal mendapatkan dukungan dari supporter,” imbunya.
Saat ini kata Mario yang terpenting bagi PSIS adalah segera menentukan sikap untuk menentukan ketua umum yang baru dan segera membentuk manajemen PSIS supaya tim bisa segera dibentuk mengingat waktu kompetisi yang sudah mepet.
Dia pun menyayangkan, jika benar ada tarik ulur politik untuk menentukan masa depan PSIS Semarang. “Siapapun yang berkepentingan (politik), harus menghilangkan kepentingan itu dan lebih memikirkan masa depan PSIS,” katanya.
Andik Sismanto - sindonews.com
Simon mengakui, memang banyaknya supporter Panser Biru dan Snex yang menjadi supporter fanatik Mahesa Jenar – Julukan PSIS- memiliki potensi besar untuk mendulang suara. Namun demikian, Simon yakin tidak semudah itu bisa mengarahkan supporter, karena memang supporter saat ini sudah pintar dalam menentukan pilihan.
“Saya yakin Suporter saat ini sudah semakin pintar, mereka bisa memilih mana yang baik dan mana yang tidak,” kata Ketua Pengurus Harian PSIS Simon Legiman.
Dikatakannya, supporter memberikan dukungan dengan begitu antusianya kepada PSIS, bukan karena siapa dibalik PSIS, tetapi karena PSIS-nya.”Mereka (Supoter) tidak akan peduli siapa dibelakang PSIS, yang mereka pedulikan adalah orang dibalik PSIS bisa membawa prestasi,” katanya.
Ketua Umum Panser Biru Mario Baskoro menyatakan, para supporter tidak akan memperdulikan siapapun yang akan memegang PSIS Semarang, baik itu dari kalangan pengusaha atau kalangan politik yang terpenting adalah mampu membawa PSIS kembali Berjaya.
“Kalau kami dari supporter siapapun yang memegang PSIS tidak masalah, asalkan mampu membawa PSIS berprestasi,” katanya.
Diapun mengakui, dengan banyaknya supporter PSIS , sangat menggiurkan bagi para elit politik untuk mendapatkan dukungan dari supporter, terlebih saat ini mendekati Pemilu Legislatif dan sebentar lagi tahun 2015 pemilihan Walikota Semarang.
“Kita (pengurus Panser) tidak bisa melarang ataupun mengendalikan anggota untuk mendukung atau tidak mendukung salah satu, karena itu menjadi hak masing-masing anggota. Tapi kami sudah wanti-wanti jangan menggunakan nama organisasi,” tandasnya.
Mario pun meyakini, jika pengurus PSIS ingin menggalang suara dari para supporter dijamin tidak akan mudah, karena memang saat ini supporter sudah semakin pintar menentukan pilihan. “Misalkan si A (pengurus PSIS) bisa membawa Prestasi PSIS, belum tentu kalau Dia mencalonkan diri sebagai Dewan atau Walikota bakal mendapatkan dukungan dari supporter,” imbunya.
Saat ini kata Mario yang terpenting bagi PSIS adalah segera menentukan sikap untuk menentukan ketua umum yang baru dan segera membentuk manajemen PSIS supaya tim bisa segera dibentuk mengingat waktu kompetisi yang sudah mepet.
Dia pun menyayangkan, jika benar ada tarik ulur politik untuk menentukan masa depan PSIS Semarang. “Siapapun yang berkepentingan (politik), harus menghilangkan kepentingan itu dan lebih memikirkan masa depan PSIS,” katanya.
Andik Sismanto - sindonews.com
Tugiyo, Mahesa Jenar, dan Sejarah PSIS Semarang
Sepak bola merupakan cabang olah raga yang memiliki penggemar paling
banyak di dunia, mulai dari anak-anak sampai orang tua pun menyukai
sepak bola. Pun demikian dengan saya, meski tak pandai bermain bola,
tapi saya termasuk orang yang suka dengan sepak bola. Saya suka menonton
pertandingan sepak bola di televisi, dan suka membaca dan menyaksikan
berita-berita seputar dunia sepak bola.
Untuk mereka yang suka dengan sepak bola, pastinya memiliki klub
favorit, demikian halnya dengan saya. Seperti yang pernah saya tuliskan disini,
dari awal saya tertarik dengan sepak bola, saya sudah suka dengan klub
SS Lazio di Liga Italia. Dalam perjalanannya, saat ini saya pun menyukai
klub Manchester United yang berlaga di Liga Ingris. Untuk klub dalam
negeri?, meski tidak semenarik kompetisi di luar negeri, namun saya
menjadi 'pendukung' klub PSIS Semarang.
![]() |
Tugiyo / bayuprajanto.blogspot.com |
Tugiyo, Mahesa Jenar, dan Sejarah PSIS
Menurut saya, kalau bicara soal PSIS Semarang, tentu tak bisa lepas dari
satu nama, Tugiyo. Ya, Tugiyo, masih saya ingat nama ini, dia adalah
mantan pemain PSIS Semarang dan pencetak satu-satunya gol ke gawang
Persebaya pada final kompetisi Liga Indonesia musim 1999. Dengan gol
tersebut maka PSIS memastikan diri sebagai juara.
Dengan postur tubuhnya yang pendek untuk ukuran pemain sepak bola, dan
postur tubuh yang gempal, mengingatkan pada sosok legenda sepak bola
Argentina, Maradona. Maka tak mengherankan jika Tugiyo pun mendapat
julukan 'Maradona dari Purwodadi'. Namun, cedera membuat karirnya
sedikit terhambat, dan dari berita yang saya baca, dia sekarang pensiun
jadi pemain dan merintis karir sebagai pelatih sepak bola.
Lalu, siapakah Mahesa Jenar?, dari yang saya baca di wikipedia, Mahesa
Jenar merupakan tokoh utama dalam cerita Nagasasra dan Sabukinten karya
S.H. Mintardja. Cerita yang populer tahun 1960 ini mengisahkan tentang
sosok mantan prajurit Kasultanan Demak dalam upaya mencari pusaka
kerajaan, yakni keris Nagasasra dan Sabukinten.
Lalu apa kaitannya antara Tugiyo dan Mahesa Jenar?, tidak ada, sama
sekali tidak ada kaitannya secara langsung antara Tugiyo dan Mahesa
Jenar, bila dilihat dari segi ke tokohan. Namun, perlu di ketahui,
Mahesa Jenar adalah julukan bagi PSIS Semarang, oleh karenanya, bila
dikaitkan antara Tugiyo dan Mahesa Jenar tim PSIS Semarang tentu sangat
berkaitan erat, karena Tugiyo adalah pemain yang menjadi legenda, pemain
yang mencatatkan namanya dalam sejarah klub PSIS Semarang.
http://www.sukadi.net/2013/06/tugiyo-mahesa-jenar-dan-sejarah-psis.html
Langganan:
Postingan (Atom)